Inilah Aku Bagi Keluarga
Terlahir sebagai anak
pertama dari tiga orang bersaudara, satu orang adik perempuan dan satu adik
laki-laki. Keduanya belum menikah dan masih mengenyam pendidikan di tingkat
sekolah menengah atas dan sekolah dasar. Saya adalah seorang anak perempuan
yang berasal dari sebuah kota yang mendapat julukan kota udang. Saya dilahirkan
pada tanggal 25 Desember 1995, 20 tahun yang lalu. Selama 20 tahun itu saya
tinggal dan dibesarkan di kota kelahiran tercinta, Kota Cirebon. Ayah saya bernama
Udi Suhandi dan ibu saya bernama Rayati, keduanya berasal dari Kota Cirebon.
Ayah saya tidak bekerja, beliau hanya menjaga rumah, adik-adik, dan membantu
keluarga menanam tanaman palawija, seperti yang dilakukan orang-orang di desa
pada umumnya. Sebaliknya, justru ibu saya yang bekerja sebagai seorang
pedagang. Menjual nasi putih lengkap dengan lauk pauk masakan khas sunda,
orang-orang biasa menyebutnya warteg yang artinya warung tegal, padahal jelas
ibu saya bukan berasal dari Kota Tegal melainkan dari Cirebon. Saya
menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah
menengah atas di kota kelahiran saya.Saat ini saya terdaftar sebagai salah satu
mahasiswa di salah satu universitas bergengsi di ibukota. Saya merupakan mahasiswa
Semester 5 Jurusan Ekonomi Administrasi di Universitas Negeri Jakarta. Tidak
mudah bagi saya yang berasal dari daerah untuk bisa menerobos masuk dan
menempati satu kursi guna menimba ilmu di kampus pendidikan ini, banyak
pengorbanan dan perjuangan yang harus saya tempuh untuk sampai pada titik
dimana saya berdiri tegak sekarang.
Seperti
kata orang tua, anak pertama itu harus bisa jadi panutan untuk adik-adiknya.
Terlebih lagi jika bisa bermanfaat luas untuk keluarga dan masyarakat. Anak
pertama adalah pembuka jalan bagi adik-adiknya, karena dari seorang kakaklah
adik akan belajar lebih banyak. Menjadi anak pertama terkadang membuat saya
menjadi takut dan terbebani. Ketakutan akan tidak berhasilnya menjadi panutan
dan sosok teladan bagi kedua adik saya. Namun seiring waktu berjalan, saya
berusaha mengusir jauh-jauh dan melawan perasaan takut itu, saya bertekad dan
berjanji pada diri saya sendiri untuk bisa menjadi seseorang yang besar, yang
tentu saja bisa berguna dan membanggakan keluarga.
Saat
ini saya masih dalam proses mengejar sarjana, memang belum banyak yang bisa
saya lakukan untuk keluarga. Namun, ditengah keterbatasan ini saya tetep
berusaha untuk menjadi sesuatu, menunjukan eksistensi dalam keluarga, serta
memberikan teladan dan contoh yang baik untuk kedua adik saya. Di tengah
himpitan ekonomi yang menjadi masalah utama dalam keluarga kami, tidak
menyurutkan tekad saya untuk bisa menggapai gelar sarjana yang mudah-mudahan
akan didapatkan dalam 2 tahun ini. Saya ingin menunjukan dan membuktikan kepada
kedua adik saya, walau keadaan ekonomi keluarga menengah kebawah, tetapi masih
bisa memperjuangkan cita-cita dan impian-impian besar saya di bangku kuliah.
Dengan penghasilan yang
hanya sekitar Rp. 1.500.000/bulan, ibu selalu kesulitan untuk mengalokasikan
uang tersebut. Biaya hidup sehari-sehari, biaya sekolah ketiga anaknya, biaya
listrik, air dll, semuanya ditanggung sendiri oleh seorang perempuan yang
sangat kuat dan hebat, yang sampai sekarang masih dan akan tetap menjadi sosok
idola serta panutan dalam hidup saya.
Sadar akan hal itu, saya selau berusaha untuk membantu meringankan beban
besar yang ditanggung oleh ibu. Hal
yang sangat meyakitkan adalah ketika waktu pembayaran Uang Kuliah Tunggal
kuliah saya mulai dibuka, dan saat itu tabungan ibu belum cukup. Beliau harus
menahan rasa malu meminjam uang pada sodara dan para tetangga untuk menambah
uang kuliah saya. Melihat perjuangn ibu yang begitu besar, saya tidak bisa
tinggal diam begitu saja. Selain itu ibu tidak pernah mengirimkan uang saku kepada
saya setiap bulannya, beliau hanya memberikan uang untuk membayar kuliah 6
bulan sekali. Maka dari itu saya berusaha mencari uang sendiri untuk kebutuhan
saya selama berkuliah dan tinggal di kota metropolitan ini. Berjuang sendiri,
hidup mandiri, inilah saya yang ingin menunjukan kepada keluarga saya, dan
membuat mereka semua bangga.
Senin s.d Jumat
merupakan hari sibuk saya berkutat dengan kuliah dan tugas-tugasnya, sedangkan
Sabtu dan Minggu yang seharusnya dipakai untuk berorganisasi dan istirahat saya
curahkan dan relakan waktu istirahat itu untk membantu bibi yang bejualan di
warung kecil nan sederhana di daerah pesisir pinggiran Jakarta, tepatnya di
Dadap Tangerang. Karena dari sanalah saya bisa mendapatkan uang saku yang
kemudian bisa saya pakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar uang
kos tiap bulan. Memang tidak seberap auang yang saya dapatkan hasil dari
membantu bibi di warung, maka dari itu saya harus bisa berhemat dan rajin
menabung agar semua kebutuhan bisa terpenuhi dengan uang yang terbatas. Di sana
saya membantu selama 2 hari, mencuci piring, menjadi pramusaji dan apa saja
yang bisa saya lakukan.
Sejak berada di sekolah
menengah pertama saya terbiasa mengikuti organisasi dan kegiatan-kegiatan
lainnya, namun itu tidak bisa saya aplikasikan kembali di masa kuliah sekarang
ini karena keterbatasan waktu yang saya miliki. Saya lebih memilih membantu
bibi mengumpulkan rupiah untuk keberlangsungan hidup saya sendiri di ibukota.
Semua ini saya lakukan agar bisa meringankan beban financial yang tengah
dipikul oleh ibu. Bukan hal mudah membiayai ketiga anaknya yang bersekolah
seorang diri dan dengan penghasilan yang relative kecil. Teradang cibiran itu
silih berganti datang dari teman-teman seperjuangan, namun gengsi dan ego
sebisa mungkin saya tekan, saya hilangkan dari pikiran. Suatu saat akan saya
buktikan bahwa saya mampu menggapai cita dan menjadikan impian menjadi
kenyataan walau proses untuk menuju itu sangat melelahkan dan serba kekurangan.
Ibu adalah motivasi
terbesar dalam hidup saya, beliau adalah role model saya dalam menjalani hidup.
Saya belajar banyak darinya tentang apa itu arti hidup yang sebenarnya, belajar
untuk kuat, sabar, dan bertahan hidup ditengah-tengah kerasnya kehidupan di
Jakarta. Inilah saya bagi keluarga, yang saat ini belum bisa berkontribusi
banyak di dalamnya, namun tengah berusaha sekuat tenaga mengangkat harkat dan
martabat orangtua serta keluarga saya melalui ilmu-ilmu yang saya dapat di
kampus pendidikan.
Jakarta, 16 September 2016
Cici Rosdiana