Cici Rosdiana, yang lagi rindu rumah :')
** Di atas jembatan penyebrangan. mendadak tubuhku mematung, Diam termenung, terpaku untuk beberapa saat. Lalu lalang kendaraan, lengkap dengan asap dan suara bising nya, seolah menjadi Santapan lezat yang dihidangkan ibukota setiap harinya. Seketika hati dan pikiran pun melayang meninggalkan raganya yang tengah mematung tersandar pada besi pembatas jembatan menuju sebuah desa kecil di ujung selatan kabupaten Cirebon. Terbang menuju sebuah rumah tempat orang-orang yang aku cintai tinggal. *Hahha sepertinya ada yang sedang rindu rumah..
Iya, aku rindu rumah dengan segala macam isinya. Aku rindu kamu dengan segala bentuk perhatiannya *nahloh
Aaaah aku rindu
** 6 bulan terakhir ini aku berada di sebuah kota yang mulai tak terasa asing, sebuah kota yang konon katanya menjanjikan segalanya. Kekayaan, ketenaran, keberhasilan bahkan kehancuran.
Aku menimba ilmu di kota metropolitan, menuntut ilmu guna cerah nya masa depan, dan juga mengais serpihan-serpihan rejeki yang berterbangan di langit Jakarta. Berkutat dengan debu dan asap pabrik juga kendaraan, bertarung dengan teriknya panas matahari dan derasnya arus banjir kala langit menangis menurunkan butiran-butiran hujan nya. Belum lagi nyamuk, kecoa, dan banyak lagi hewan menjijikan lain yang menemaniku saat tidur di atas tumpukan kardus itu. Aku rindu kamar bu, aku rindu nyenyaknya tidur di atas kasur tanpa gangguan makhluk-makhluk kecil yang mengganggu itu. Aku rindu ibuuuu, ingin pulang bu, secepatnya :') Percayalah, tidak ada tempat paling nyaman kecuali rumah sendiri.
Keadaan mempunyai 1000 cara untuk membuatku menyerah dan patah arah, namun aku mempunyai 1001 cara untuk bertahan.
*Jakarta, 03 Mei 2016
Cici Rosdiana, yang ingin pulang .
Selasa, 03 Mei 2016
Kalian Berubah
Kamu, kini mulai berubah.
Kalian semua mulai berubah.
Mama, selalu mengajarkan betapa penting nya mengerti, menghargai dan menghormati orang lain. Tapi mama lupa, bagaimana mama mengerti aku? Bukan kah seharus nya seorang ibu menjadi tempat paling nyaman untuk anak nya berkeluh kesah atas semua yang ia rasakan.
Ayah, yang sedari dulu memang tak kurasakan pengertian nya terhadapku. Aku memang terbiasa dengan segala sikap cuek dan acuh nya. Namun tetap saja, terkadang aku sangat merindukan belaian kasih, usapan lembut nya. Begitu mengharapkan nasihat-nasihat nya untuk menenangkan hatiku yang tengah merasa sakit.
Kamu gi, aku seperti mulai kehilangan kamu yang dulu.
Seperti Acuh, tak mau tau, dan tak mau mendengar.
Setelah dengan orangtuaku, aku ingin tinggal dan hidup bersama dengan kamu gi. Tapi apakah keyakinanku akan terus bertahan dengan keadaan kita yg seperti ini? Seperti orang orang di jajaran politik yang setiap harinya tidak pernah lepas dari debat dan bersitegang.
Entah aku yang lebay atau memang semua nya yang berubah perlahan. Tapi aku takut gi.
Lantas, sudah tidak adakah yang mau mendengar?
Jakarta, 03 Mei 2016
Kalian semua mulai berubah.
Mama, selalu mengajarkan betapa penting nya mengerti, menghargai dan menghormati orang lain. Tapi mama lupa, bagaimana mama mengerti aku? Bukan kah seharus nya seorang ibu menjadi tempat paling nyaman untuk anak nya berkeluh kesah atas semua yang ia rasakan.
Ayah, yang sedari dulu memang tak kurasakan pengertian nya terhadapku. Aku memang terbiasa dengan segala sikap cuek dan acuh nya. Namun tetap saja, terkadang aku sangat merindukan belaian kasih, usapan lembut nya. Begitu mengharapkan nasihat-nasihat nya untuk menenangkan hatiku yang tengah merasa sakit.
Kamu gi, aku seperti mulai kehilangan kamu yang dulu.
Seperti Acuh, tak mau tau, dan tak mau mendengar.
Setelah dengan orangtuaku, aku ingin tinggal dan hidup bersama dengan kamu gi. Tapi apakah keyakinanku akan terus bertahan dengan keadaan kita yg seperti ini? Seperti orang orang di jajaran politik yang setiap harinya tidak pernah lepas dari debat dan bersitegang.
Entah aku yang lebay atau memang semua nya yang berubah perlahan. Tapi aku takut gi.
Lantas, sudah tidak adakah yang mau mendengar?
Jakarta, 03 Mei 2016
Langganan:
Komentar (Atom)