Jumat, 16 September 2016

Scholarship Baituzzakah Pertamina



Inilah Aku Bagi Keluarga

Terlahir sebagai anak pertama dari tiga orang bersaudara, satu orang adik perempuan dan satu adik laki-laki. Keduanya belum menikah dan masih mengenyam pendidikan di tingkat sekolah menengah atas dan sekolah dasar. Saya adalah seorang anak perempuan yang berasal dari sebuah kota yang mendapat julukan kota udang. Saya dilahirkan pada tanggal 25 Desember 1995, 20 tahun yang lalu. Selama 20 tahun itu saya tinggal dan dibesarkan di kota kelahiran tercinta, Kota Cirebon. Ayah saya bernama Udi Suhandi dan ibu saya bernama Rayati, keduanya berasal dari Kota Cirebon. Ayah saya tidak bekerja, beliau hanya menjaga rumah, adik-adik, dan membantu keluarga menanam tanaman palawija, seperti yang dilakukan orang-orang di desa pada umumnya. Sebaliknya, justru ibu saya yang bekerja sebagai seorang pedagang. Menjual nasi putih lengkap dengan lauk pauk masakan khas sunda, orang-orang biasa menyebutnya warteg yang artinya warung tegal, padahal jelas ibu saya bukan berasal dari Kota Tegal melainkan dari Cirebon. Saya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas di kota kelahiran saya.Saat ini saya terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di salah satu universitas bergengsi di ibukota. Saya merupakan mahasiswa Semester 5 Jurusan Ekonomi Administrasi di Universitas Negeri Jakarta. Tidak mudah bagi saya yang berasal dari daerah untuk bisa menerobos masuk dan menempati satu kursi guna menimba ilmu di kampus pendidikan ini, banyak pengorbanan dan perjuangan yang harus saya tempuh untuk sampai pada titik dimana saya berdiri tegak sekarang.
            Seperti kata orang tua, anak pertama itu harus bisa jadi panutan untuk adik-adiknya. Terlebih lagi jika bisa bermanfaat luas untuk keluarga dan masyarakat. Anak pertama adalah pembuka jalan bagi adik-adiknya, karena dari seorang kakaklah adik akan belajar lebih banyak. Menjadi anak pertama terkadang membuat saya menjadi takut dan terbebani. Ketakutan akan tidak berhasilnya menjadi panutan dan sosok teladan bagi kedua adik saya. Namun seiring waktu berjalan, saya berusaha mengusir jauh-jauh dan melawan perasaan takut itu, saya bertekad dan berjanji pada diri saya sendiri untuk bisa menjadi seseorang yang besar, yang tentu saja bisa berguna dan membanggakan keluarga.
            Saat ini saya masih dalam proses mengejar sarjana, memang belum banyak yang bisa saya lakukan untuk keluarga. Namun, ditengah keterbatasan ini saya tetep berusaha untuk menjadi sesuatu, menunjukan eksistensi dalam keluarga, serta memberikan teladan dan contoh yang baik untuk kedua adik saya. Di tengah himpitan ekonomi yang menjadi masalah utama dalam keluarga kami, tidak menyurutkan tekad saya untuk bisa menggapai gelar sarjana yang mudah-mudahan akan didapatkan dalam 2 tahun ini. Saya ingin menunjukan dan membuktikan kepada kedua adik saya, walau keadaan ekonomi keluarga menengah kebawah, tetapi masih bisa memperjuangkan cita-cita dan impian-impian besar saya di bangku kuliah.
Dengan penghasilan yang hanya sekitar Rp. 1.500.000/bulan, ibu selalu kesulitan untuk mengalokasikan uang tersebut. Biaya hidup sehari-sehari, biaya sekolah ketiga anaknya, biaya listrik, air dll, semuanya ditanggung sendiri oleh seorang perempuan yang sangat kuat dan hebat, yang sampai sekarang masih dan akan tetap menjadi sosok idola serta panutan dalam hidup saya.  Sadar akan hal itu, saya selau berusaha untuk membantu meringankan beban besar yang ditanggung oleh ibu.         Hal yang sangat meyakitkan adalah ketika waktu pembayaran Uang Kuliah Tunggal kuliah saya mulai dibuka, dan saat itu tabungan ibu belum cukup. Beliau harus menahan rasa malu meminjam uang pada sodara dan para tetangga untuk menambah uang kuliah saya. Melihat perjuangn ibu yang begitu besar, saya tidak bisa tinggal diam begitu saja. Selain itu ibu tidak pernah mengirimkan uang saku kepada saya setiap bulannya, beliau hanya memberikan uang untuk membayar kuliah 6 bulan sekali. Maka dari itu saya berusaha mencari uang sendiri untuk kebutuhan saya selama berkuliah dan tinggal di kota metropolitan ini. Berjuang sendiri, hidup mandiri, inilah saya yang ingin menunjukan kepada keluarga saya, dan membuat mereka semua bangga.
Senin s.d Jumat merupakan hari sibuk saya berkutat dengan kuliah dan tugas-tugasnya, sedangkan Sabtu dan Minggu yang seharusnya dipakai untuk berorganisasi dan istirahat saya curahkan dan relakan waktu istirahat itu untk membantu bibi yang bejualan di warung kecil nan sederhana di daerah pesisir pinggiran Jakarta, tepatnya di Dadap Tangerang. Karena dari sanalah saya bisa mendapatkan uang saku yang kemudian bisa saya pakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar uang kos tiap bulan. Memang tidak seberap auang yang saya dapatkan hasil dari membantu bibi di warung, maka dari itu saya harus bisa berhemat dan rajin menabung agar semua kebutuhan bisa terpenuhi dengan uang yang terbatas. Di sana saya membantu selama 2 hari, mencuci piring, menjadi pramusaji dan apa saja yang bisa saya lakukan.
Sejak berada di sekolah menengah pertama saya terbiasa mengikuti organisasi dan kegiatan-kegiatan lainnya, namun itu tidak bisa saya aplikasikan kembali di masa kuliah sekarang ini karena keterbatasan waktu yang saya miliki. Saya lebih memilih membantu bibi mengumpulkan rupiah untuk keberlangsungan hidup saya sendiri di ibukota. Semua ini saya lakukan agar bisa meringankan beban financial yang tengah dipikul oleh ibu. Bukan hal mudah membiayai ketiga anaknya yang bersekolah seorang diri dan dengan penghasilan yang relative kecil. Teradang cibiran itu silih berganti datang dari teman-teman seperjuangan, namun gengsi dan ego sebisa mungkin saya tekan, saya hilangkan dari pikiran. Suatu saat akan saya buktikan bahwa saya mampu menggapai cita dan menjadikan impian menjadi kenyataan walau proses untuk menuju itu sangat melelahkan dan serba kekurangan.
Ibu adalah motivasi terbesar dalam hidup saya, beliau adalah role model saya dalam menjalani hidup. Saya belajar banyak darinya tentang apa itu arti hidup yang sebenarnya, belajar untuk kuat, sabar, dan bertahan hidup ditengah-tengah kerasnya kehidupan di Jakarta. Inilah saya bagi keluarga, yang saat ini belum bisa berkontribusi banyak di dalamnya, namun tengah berusaha sekuat tenaga mengangkat harkat dan martabat orangtua serta keluarga saya melalui ilmu-ilmu yang saya dapat di kampus pendidikan.


Jakarta, 16 September 2016
Cici Rosdiana


11 komentar:

  1. Great cici semangat km pasti bisa 💪👏

    BalasHapus
  2. Panjeg dina galur nya ci..

    Sukses juga bhat segala urusanya ..
    Aamiin..
    Salam 9a..
    Salam osis neber one ..hehe

    BalasHapus
  3. semangat ,tuk gapai impianmu💪

    BalasHapus
  4. Semangat terus kuliahnyaa :) maju terus pantang mundur !!

    BalasHapus
  5. semoga kelak bisa tercapai segala cita-citanya. keep fighting:)

    BalasHapus
  6. Luar biasa Cici wanita yg hebat, tetep semangat ya Cantik, tiada hasil yg menghianati usaha semua akan indah pada waktunya, Ganbate Cantik :-)

    BalasHapus